hal.tweeter. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS


Gundahan Hati
Ahhhh, suara-suara bising sudah terdengar di telingaku. Kepalaku terasa berat untuk diangkat. Mulai berlahan ku buka mataku. Samar-samar terlihat sinar lampu yang tepat diatas tatapan mataku.
Mulai kuangkat badan ku yang terasa letih.  Ku seka mataku yang masih lembab sisa air mata tadi malam. Yah  ke kecewaan tadi malam masih kurasakan.
Ku mulai mengingat –ingat apa yang terjadi tadi malam, rasanya kesedihan itu masih terasa di hatiku. Rasa sedih, kecewa, amarah, dan rasa tersakiti muncul kala itu.
Tiba-tiba, krekkkkkk,.,.
Suara pintu terbuka,. “Sayank,.”  Suara mama mendatangiku. Dan aku tetap menunduk. Malas rasanya untuk bicara.
“gimanasih kok cewek baru bangun jam segini??? enggak biasanya anak mama ini bangun siang.” “capek ma” jawab ku singkat. Sambil kembali berbaring di atas dipan.
“capek apa? Nangis?” tanya mama, dan aku tetap diam. “sayang hidup memang seperti ini, tak pernah semulus yang kita harapkan. Manusia pasti pernah merasa hidupnya yang sakit, menderita, terkucilkan, tapi mereka itu sebenarnya diajarkan untuk jadi lebih kuat, lebih tabah, dan lebih bza menyikapi segala masalah” mama terus saja berkata-kata yang tak ku mengeerti. “ sudahlah, lupakan kejadian tadi malam, ayo senyum lagi” mama terus saja bicara. Sambil menegakkan badan ku yang serasa tak memiliki tulang lagi tuk berdiri, mama tersenyum padaku. “ayooooo, sayang senyum “ . “ooo iya jam berapa sekarang, ayo mandi,  siap-siap skolah” kata mama sambil melipat slimut . “ hari ini hari minggu mama” kataku sambil kembali rebahan. “ aduhhh dinda sama hari jha masa lupa . hari ini hari senin.” . “apa.?”  Sentakku.” Mati aku , tugas bu ita belum aku kerjakan padahal bu ita masuk jam pertama” triak batin q,. Sambil menarik handuk, q berlari bergegas ke kamar mandi.
“cepat kak, dinda udah telat”.” Hahhhhh, pasti lama”. “kak dion cepetan, dinda telat ni”.
“iya ni lagi gosok gigi, sabar sebentar knapa.” Jawab seseorang d dalam kamar mandi. Tiba-tiba pintu terbuka. “dah ni” terlihat kak dion membuka pintu. Tak sempat menjawab perkataan kak dion langsung saja aku cepat” masuk ke kamar mandi.
Di sekolah pun Mataku sibuk mencari-cari seseorang. Dan tiba-tiba mataku tertuju pada satu orang. Itu dia. Restu.
“restu.......,restu....” triakku sambil melambai-lambaikan tangan. Restu tengah duduk dibangku bagian belakang dan tengah berbindang” dengan temannya segera menengok ke Arahku. Aku berlari menghampirinya.
“Restu. Cepat,  tugas matematika bu ita, aku belum ngerjain ” sambil tergesa-gesa aku mebuka buku dan mencari-cari pulpen.
sambil meraih buku dihadapannya dan menyerahkanku iapun menggerutu “ PR tu tugas rumah , jadi harus dikerjain di rumah bukan di sekolah.  Lagian ngapain jha si kamu semalem din”.
Aku menghentikan kegiatanku menyalin sesaat. “kamu gx ngerti restu” jawabku dalam hati. Kata-kata terakhir restu mengingatkan ku kejadian semalam yang hanya akan mengacaukan segalanya. Segera ku tepis bayangan itu dan ku lanjutkan mencatat.
“haruusnya kan klo kamu emang gx bisa ngerjain dateng ke rumahku tadi malam” lanjut restu melihat aku tak merespon kata-katanya.
“udah dong restu angan ngambek mulu”. Akhirnya aku menanggapi kata-katanya.
Tettttt,tettttt,tettttt. Bel berbunyi, tanda masuk kelas.
Aku semakin gugup tulisanku makin tak karuan.  Dan ku lihat bu ita memasuki ruangan.
Dan “hahhhhhhhhhhh” aku menghela nafas panjangaku baru dapat menyelsaikan 5 soal, padahal ada 10 soal. “Mati lah aku”.
“slamat pagi anak-anak” sapa bu ita.
Aku segera berlari menuju bangku ku. “pagi bu” jawab murid-murid serentak.
Aku masih kebingungan dengan jawaban soal matematika ku,.,
Sekarang kumpulkan tugas minggulalu. “aduhhhhh” bertambah pusing aku.
Selangkah demi selangkah akhirnya aku mulai maju. Dan ku kumpulknan tugasku yang belum rampung itu.
^pulang sekolah^
Hasil tugas matematika di bagikan sebelum jam pulang, dan seperti keyakinanki, nilaikuuuuuuu, 4,8. Mengerikan. Sambil melangkah berlahan menju lobi sekolah. Aku mulai merunduk. “Hahhhhhh, sialnya aku, lengkaplah sudah cinta dan nilai ku. Sama-sama hancur” . ahhhh sangat mengerikan.
“kenapa Tuhan,? Kenapa .? knapa ?”
“gimana din.?” Terdengar suara dari belakang. “apanya.?” Jawabku sinis sambil cemberut, ternyata restu yang berada dibelakangku.
“Nilainya.?” Sambungnya lagi. “ ahhhhhhh mengerikan, lihat saja.?” Sambil menunjukan buku ke hadapannya.
“wooooo, makanya bzok-besok jangan lupa ngerjain Prnya dirumah ya dek, clo gx bisa tanya kakak, OKE” . clotehnya yang sangat riang sambil memegang kepalaku. Uhhhhh aku tambah cemberut. Restu memang lebih tua dariku dan kami berteman sejak smp.
“akukan cuman lupa” jawabku menyangkalnya.
“Ya sudah, bzok-besok jangan lupa lagi”. Balasnya. “iya-iya” jawabku.
“hari ini di jemput.?” Tanya restu lagi “ iya, kak dionyang jemput”.
“mau, aku temenin nunggu kak dionnyaa.? ” . “emmmmmmm, boleh lah, jd ada temen ngobrolkan , daripada dinda bengong sndrian”.
Kami berjalan menuju lobi bersamaan. Sampainya disana kita duduk berdekatan di ujung lobi.
aku ingin menceritakan kejadian tadi malam kepada restu. Tapi, sedikit keraguan muncul. Aduhhhh aku bingung bangt ni. Pikirku.
Hemmmm,kok kak dion lama bangt ya,? Ku mulai menggrutu.
“mngnya tadi gx di sms apa?”
“td tu, kak dion udah bilang ke aku , katanya dia yang mau jemput ku hari ini.?”.” q sms juga ini gx dibales.”
“Ya udah gx dah nangis gtu donk”. Kata-kata retu meledek ku
“spa juga yang nangis, akukan cuman sebel ama kak Dion. Sms ku gx dibales, trz gx jemput” aku, padahal biasanya kan dia selalu ontime clo bikin janji msa aku”.
“ emmmmm” seakan restu memikirkan sesuatu.
“ gimana, emmm, gimana clo kita pulang bareng aja.?”
“ tp ntr clo tiba-tiba kak dion jemput aku tp akunya  gx ada gmn.? Pasti dia bakal kebingungan”
Ujarku kepada restu. Sebenarnya aku pengen si plang bareng Restu. Abiznya aku dah BT nungguin kak dion yang gx muncul-muncul.
“ya udah lah tinggal sms kak Dion bilang clo kamu pulang sma aku, bereskan” . kata-kata restu seakan mengajariku.
“ihhhhh” sambil mencubit pipi restu. “ kamu pinter banget ciiiiiii” sambil tersenenyum aku melihat restu yang tengah kesakitan akibat cubitanku.
“sakit tau uhhhhh”  .
Sambil menggandengku kamu beranjak keparkiran dan kembali pulang.
Saat diperjalanan plang aku menyadari dan mulai bertanyaa pada diriku sendiri.” Kenapa saat aku bersama dengan Restu pikiranku mulai terasa jernih lagi” aku dapat melupakan rio kekasihku yang menyakiti hatiku.
Dalam lamunanku tak terasa kita sudah sampai dirumah ku.kita berdua melangkah maju mnuju pintu depan rumahku. Tiba-tiba....
Siapa itu. Terlihat pundak seorang laki-laki dari balik kaca cendela rumahku. Sepertinya aku akrab dengan pundak itu. Aku mulai tersadar “Rio” ujarku.
Saatb aku akan berlari menjauh dari rumahku “Dinda”. Suara itu...
Ku hentikan langkahku seketika.
“ aku tau kamu marah sma aku” .”tapi. aku minta maaf”. RIO, orang yang dulu sangat-sangat aku cintai mulai menggunakan seribu akal busuknya untuk kembali dalam dekapanku.
Aku benci dengan kata” yang ia ucapkan.
“ maaf.?””cuman dengan itu smuanya bisa terhapus.?” Iya.?” Bisa ilang waktu aku ngliat kamu cium bibir anita.? Dan aku cuman kayak orang bego yang kamu bohongin selama berbulan-bulan kita pacaran.?”  “gitu.?” Dengan air mata yang terus menetes dari mataku aku terus mengucapkan kata” yang mungkin slama ini tak pernah aku byangkan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS