Gundahan Hati
Ahhhh, suara-suara bising sudah
terdengar di telingaku. Kepalaku terasa berat untuk diangkat. Mulai berlahan ku
buka mataku. Samar-samar terlihat sinar lampu yang tepat diatas tatapan mataku.
Mulai kuangkat badan ku yang terasa
letih. Ku seka mataku yang masih lembab
sisa air mata tadi malam. Yah ke
kecewaan tadi malam masih kurasakan.
Ku mulai mengingat –ingat apa yang
terjadi tadi malam, rasanya kesedihan itu masih terasa di hatiku. Rasa sedih,
kecewa, amarah, dan rasa tersakiti muncul kala itu.
Tiba-tiba, krekkkkkk,.,.
Suara pintu terbuka,.
“Sayank,.” Suara mama mendatangiku. Dan
aku tetap menunduk. Malas rasanya untuk bicara.
“gimanasih kok cewek baru bangun
jam segini??? enggak biasanya anak mama ini bangun siang.” “capek ma” jawab ku
singkat. Sambil kembali berbaring di atas dipan.
“capek apa? Nangis?” tanya mama,
dan aku tetap diam. “sayang hidup memang seperti ini, tak pernah semulus yang
kita harapkan. Manusia pasti pernah merasa hidupnya yang sakit, menderita,
terkucilkan, tapi mereka itu sebenarnya diajarkan untuk jadi lebih kuat, lebih
tabah, dan lebih bza menyikapi segala masalah” mama terus saja berkata-kata
yang tak ku mengeerti. “ sudahlah, lupakan kejadian tadi malam, ayo senyum lagi”
mama terus saja bicara. Sambil menegakkan badan ku yang serasa tak memiliki
tulang lagi tuk berdiri, mama tersenyum padaku. “ayooooo, sayang senyum “ .
“ooo iya jam berapa sekarang, ayo mandi, siap-siap skolah” kata mama sambil melipat
slimut . “ hari ini hari minggu mama” kataku sambil kembali rebahan. “ aduhhh
dinda sama hari jha masa lupa . hari ini hari senin.” . “apa.?” Sentakku.”
Mati aku , tugas bu ita belum aku kerjakan padahal bu ita masuk jam pertama”
triak batin q,. Sambil menarik handuk, q berlari bergegas ke kamar mandi.
“cepat kak, dinda udah telat”.”
Hahhhhh, pasti lama”. “kak dion cepetan, dinda telat ni”.
“iya ni lagi gosok gigi, sabar
sebentar knapa.” Jawab seseorang d dalam kamar mandi. Tiba-tiba pintu terbuka.
“dah ni” terlihat kak dion membuka pintu. Tak sempat menjawab perkataan kak
dion langsung saja aku cepat” masuk ke kamar mandi.
Di sekolah pun Mataku sibuk
mencari-cari seseorang. Dan tiba-tiba mataku tertuju pada satu orang. Itu dia.
Restu.
“restu.......,restu....” triakku
sambil melambai-lambaikan tangan. Restu tengah duduk dibangku bagian belakang dan
tengah berbindang” dengan temannya segera menengok ke Arahku. Aku berlari
menghampirinya.
“Restu. Cepat, tugas matematika bu ita, aku belum ngerjain ”
sambil tergesa-gesa aku mebuka buku dan mencari-cari pulpen.
sambil meraih buku dihadapannya dan
menyerahkanku iapun menggerutu “ PR tu tugas rumah , jadi harus dikerjain di
rumah bukan di sekolah. Lagian ngapain
jha si kamu semalem din”.
Aku menghentikan kegiatanku menyalin
sesaat. “kamu gx ngerti restu”
jawabku dalam hati. Kata-kata terakhir restu mengingatkan ku kejadian semalam
yang hanya akan mengacaukan segalanya. Segera ku tepis bayangan itu dan ku
lanjutkan mencatat.
“haruusnya kan klo kamu emang gx
bisa ngerjain dateng ke rumahku tadi malam” lanjut restu melihat aku tak
merespon kata-katanya.
“udah dong restu angan ngambek
mulu”. Akhirnya aku menanggapi kata-katanya.
Tettttt,tettttt,tettttt. Bel
berbunyi, tanda masuk kelas.
Aku semakin gugup tulisanku makin
tak karuan. Dan ku lihat bu ita memasuki
ruangan.
Dan “hahhhhhhhhhhh” aku menghela
nafas panjangaku baru dapat menyelsaikan 5 soal, padahal ada 10 soal. “Mati lah
aku”.
“slamat pagi anak-anak” sapa bu
ita.
Aku segera berlari menuju bangku
ku. “pagi bu” jawab murid-murid serentak.
Aku masih kebingungan dengan
jawaban soal matematika ku,.,
Sekarang kumpulkan tugas
minggulalu. “aduhhhhh” bertambah pusing aku.
Selangkah demi selangkah akhirnya
aku mulai maju. Dan ku kumpulknan tugasku yang belum rampung itu.
^pulang sekolah^
Hasil tugas matematika di bagikan
sebelum jam pulang, dan seperti keyakinanki, nilaikuuuuuuu, 4,8. Mengerikan.
Sambil melangkah berlahan menju lobi sekolah. Aku mulai merunduk. “Hahhhhhh,
sialnya aku, lengkaplah sudah cinta dan nilai ku. Sama-sama hancur” . ahhhh
sangat mengerikan.
“kenapa Tuhan,? Kenapa .? knapa ?”
“gimana din.?” Terdengar suara dari
belakang. “apanya.?” Jawabku sinis sambil cemberut, ternyata restu yang berada
dibelakangku.
“Nilainya.?” Sambungnya lagi. “
ahhhhhhh mengerikan, lihat saja.?” Sambil menunjukan buku ke hadapannya.
“wooooo, makanya bzok-besok jangan
lupa ngerjain Prnya dirumah ya dek, clo gx bisa tanya kakak, OKE” . clotehnya
yang sangat riang sambil memegang kepalaku. Uhhhhh aku tambah cemberut. Restu memang
lebih tua dariku dan kami berteman sejak smp.
“akukan cuman lupa” jawabku
menyangkalnya.
“Ya sudah, bzok-besok jangan lupa
lagi”. Balasnya. “iya-iya” jawabku.
“hari ini di jemput.?” Tanya restu
lagi “ iya, kak dionyang jemput”.
“mau, aku temenin nunggu kak
dionnyaa.? ” . “emmmmmmm, boleh lah, jd ada temen ngobrolkan , daripada dinda
bengong sndrian”.
Kami berjalan menuju lobi
bersamaan. Sampainya disana kita duduk berdekatan di ujung lobi.
aku ingin menceritakan kejadian
tadi malam kepada restu. Tapi, sedikit keraguan muncul. Aduhhhh aku bingung
bangt ni. Pikirku.
Hemmmm,kok kak dion lama bangt ya,?
Ku mulai menggrutu.
“mngnya tadi gx di sms apa?”
“td tu, kak dion udah bilang ke aku
, katanya dia yang mau jemput ku hari ini.?”.” q sms juga ini gx dibales.”
“Ya udah gx dah nangis gtu donk”.
Kata-kata retu meledek ku
“spa juga yang nangis, akukan cuman
sebel ama kak Dion. Sms ku gx dibales, trz gx jemput” aku, padahal biasanya kan
dia selalu ontime clo bikin janji msa aku”.
“ emmmmm” seakan restu memikirkan
sesuatu.
“ gimana, emmm, gimana clo kita
pulang bareng aja.?”
“ tp ntr clo tiba-tiba kak dion
jemput aku tp akunya gx ada gmn.? Pasti
dia bakal kebingungan”
Ujarku kepada restu. Sebenarnya aku
pengen si plang bareng Restu. Abiznya aku dah BT nungguin kak dion yang gx
muncul-muncul.
“ya udah lah tinggal sms kak Dion
bilang clo kamu pulang sma aku, bereskan” . kata-kata restu seakan mengajariku.
“ihhhhh” sambil mencubit pipi
restu. “ kamu pinter banget ciiiiiii” sambil tersenenyum aku melihat restu yang
tengah kesakitan akibat cubitanku.
“sakit tau uhhhhh” .
Sambil menggandengku kamu beranjak
keparkiran dan kembali pulang.
Saat diperjalanan plang aku
menyadari dan mulai bertanyaa pada diriku sendiri.” Kenapa saat aku bersama
dengan Restu pikiranku mulai terasa jernih lagi” aku dapat melupakan rio
kekasihku yang menyakiti hatiku.
Dalam lamunanku tak terasa kita
sudah sampai dirumah ku.kita berdua melangkah maju mnuju pintu depan rumahku.
Tiba-tiba....
Siapa itu. Terlihat pundak seorang
laki-laki dari balik kaca cendela rumahku. Sepertinya aku akrab dengan pundak
itu. Aku mulai tersadar “Rio” ujarku.
Saatb aku akan berlari menjauh dari
rumahku “Dinda”. Suara itu...
Ku hentikan langkahku seketika.
“ aku tau kamu marah sma aku”
.”tapi. aku minta maaf”. RIO, orang yang dulu sangat-sangat aku cintai mulai
menggunakan seribu akal busuknya untuk kembali dalam dekapanku.
Aku benci dengan kata” yang ia
ucapkan.
“ maaf.?””cuman dengan itu smuanya
bisa terhapus.?” Iya.?” Bisa ilang waktu aku ngliat kamu cium bibir anita.? Dan
aku cuman kayak orang bego yang kamu bohongin selama berbulan-bulan kita
pacaran.?” “gitu.?” Dengan air mata yang
terus menetes dari mataku aku terus mengucapkan kata” yang mungkin slama ini
tak pernah aku byangkan.







0 komentar:
Posting Komentar